Sumenep, pmiiunibamadura - Pada penghujung bulan November 2025, hujan ekstrem yang dipicu oleh kondisi atmosfer dan Siklon Tropis Senyar menyebabkan musibah banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provensi di Pulau Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Curah hujan yang sangat tinggi berlansung beberapa hari berturut-turut membuat sungai-sungai meluap dan bukit-bukit -diduga pohon ditebang- tidak mampu menahan derasnya aliran udara, sehingga memicu bencana hidrometeorologi dalam sekala yang jarang terjadi di garis katulistiwa.
Hingga pertengahan Desember 2025, data resmi terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban tewas telah melewati angka 1.000 jiwa, dengan ribuan lainnya masih dinyatakan hilang atau luka-luka, serta ratusan ribu orang mengungsi di tempat-tempat darurat.
Ketika banjir dan longsor terjadi, ribuan rumah dan infrastruktur penting serta jaringan telekomunikasi dihantam nyaris tidak tersisa. Banyak desa terputus dari akses utama karena ambruknya jalan dan jembatan, sehingga upaya bantuan dan evakuasi pada awalnya sangat tersendat. Terlebih lagi, keluarga di perantauan masih kesulitan kabar sanak saudara mereka yang berada di beberpa zona terdampak.
Musibah bencana alam tentu menyisakan duka mendalam bagi keluarga daerah terdampak. Tidak kecuali untuk perantau yang tinggal jauh dari kampung halaman. Salah satunya dirasakan oleh Eva Latifah, anggota PMII angkatan KRITA YUGA-25 Komisariat UNIBA Madura asal Palembang, Sumatera Selatan.
Perempuan tangguh kelahiran Palembang, yang saat ini berdomisili di Pakandangan Tengah, Bluto itu berkenan kepada redaksi menceritakan kondisi yang ia dengar dari kelurganya di Palembang. Berikut ulasan Wawancara Eksklusif Redaksi dengan Sahabat Eva Latifa:
1. Bisa diceritakan kenapa Eva berdomisili di Sumenep, Madura?
Perjalanan saya hingga akhirnya berada di Sumenep bermula dari keputusan untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Tahfidh Al-Amin Prenduan. Saat itu, saya datang sebagai santri dengan niat belajar dan memperbaiki diri, menjalani hari-hari di pesantren dengan segala keterbatasan sekaligus pembiasaan. Di sanalah saya belajar tentang kedisiplinan, ketekunan, dan arti kesabaran dalam proses. Tahun-tahun di pesantren menjadi fase penting yang membentuk cara saya memandang hidup. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura. Sejak saat itu, Madura bukan lagi sekedar tempat singgah, melainkan ruang baru bagi saya untuk belajar, tumbuh, dan menata masa depan.
2. Bagaimana kondisi keluarga dan situasi di kampung halaman Eva ketika bencana terjadi?
Alhamdulillah, di tengah kabar duka yang datang dari berbagai wilayah, keluarga saya masih berada dalam kondisi yang baik. Daerah tempat keluarga saya tinggal tidak termasuk wilayah yang terdampak langsung oleh bencana tersebut. Meski demikian, rasa cemas tetap ada setiap kali mendengar berita tentang hujan deras, banjir, dan longsor yang melanda daerah lain di Sumatera dan Aceh. Rasa syukur itupun bercampur dengan berkumpul, karena di saat keluarga saya selamat, ada banyak keluarga lain yang harus kehilangan rumah, harta benda, bahkan orang-orang tercinta.
3. Apa yang Eva rasakan sebagai perantau ketika pertama kali mendengar kabar bencana, dan momen apa yang paling membekas?
Tentu saja saya merasakan pencerahan yang sangat mendalam ketika mendengar kabar tentang daerah-daerah yang terdampak bencana, terutama di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Meski berada jauh di perantauan, pikiran dan perasaan saya seolah tertarik kembali ke tanah kelahiran. Setiap informasi tentang banjir dan longsor yang terjadi di sana menghadirkan kegelisahan tersendiri, sekaligus rasa sedih melihat saudara-saudara sebangsa harus berjuang menghadapi kondisi yang begitu berat.
4. Bisakah Eva menceritakan gambaran kondisi masyarakat di daerah asal dan kebutuhan paling mendesak yang mereka butuhkan saat ini?
Sejujurnya, saya belum mengetahui secara pasti kondisi di lapangan secara menyeluruh, karena keterbatasan informasi yang saya terima dari jarak yang cukup jauh. Namun dari berbagai kabar yang beredar, saya membayangkan bahwa kebutuhan yang paling mendesak bagi masyarakat terdampak adalah hal-hal paling dasar untuk bertahan hidup, seperti bahan pokok makanan, air bersih, serta kebutuhan sehari-hari lainnya. Dalam situasi darurat seperti ini, hal-hal sederhana justru menjadi penopang utama bagi mereka yang sedang berjuang memulihkan keadaan.
5. Bagaimana keluarga dan lingkungan Eva menghadapi dampak bencana, serta bagaimana Eva sendiri menjaga ketenangan di tengah jarak dan keadaan yang tidak menentu?
Alhamdulillah, hingga saat ini keluarga saya berada dalam keadaan yang baik-baik saja. Memang ada beberapa daerah tertentu yang terdampak cukup parah akibat bencana, namun berdasarkan informasi yang saya terima dari orang tua, kondisi di sekitar tempat tinggal keluarga hanya berupa hujan yang turun hampir setiap malam dan disertai angin. Meski belum menimbulkan kerusakan serius, situasi tersebut tetap menimbulkan kewaspadaan dan kekhawatiran tersendiri, terutama karena cuaca yang tidak disebutkan dapat berubah sewaktu-waktu.
6. Apa pesan dan harapan Eva, baik untuk masyarakat di Sumatera–Aceh maupun untuk sahabat-sahabat PMII UNIBA Madura agar ikut peduli terhadap situasi ini?
Menyadari bahwa manusia tidak pernah memiliki kuasa untuk menciptakan alam, namun kita memiliki tanggung jawab penuh untuk menjaganya. Bencana alam yang terjadi di Sumatra hari ini tidak bisa lepas dari ulah manusia sendiri yang kerap berdampak buruk terhadap kelestarian lingkungan. Harapan saya ke depan, kesadaran untuk menjaga dan melestarikan alam dapat tumbuh lebih kuat, agar musik serupa tidak terus menerus dan merenggut banyak korban.
Dari perantauan ini, saya juga ingin mengajak teman-teman semua, sahabat dan sahabat, untuk tidak menutup mata. Mari ikut membantu dan menunjukkan kepedulian kepada saudara-saudari kita yang terdampak bencana di Sumatera-Aceh, sekecil apa pun bentuk bantuan yang bisa kita berikan. Karena di tengah duka, solidaritas adalah kekuatan yang paling berarti.
